Akan Jadi Perdagangan Bebas, Dinkes Kutim Terus Adakan Penyuluhan.

teropongmedia.com, Sangatta- Meski belum ditemukan di Indonesia virus Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-Cov) atau lebih dikenal dengan sebutan FLU ARAB sudah menjadi momok yang mengkhawatirkan bagi warga. Tidak terkecuali bagi masyarakat Kutai Timur.

Virus mers-cov memiliki tingkat kematian yang tinggi, yaitu Lima puluh (50) persen,
penyakit ini merupakan kumpulan dari gejala saluran nafas yang ditimbulkan dari COV, yang juga turunan dari virus SARS yang memiliki tingkat kematian Sepuluh (10) persen. Proses penularannya dari droplet atau liur. Bahkan dari barang yang terpegang, seperti buah dari pasar.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Bahrani Hasanal beberapa hari yang lalu di Kantor Bupati, ia mengatakan tujuan dibetuknya tim pencegahan penyakit berbahaya tersebut, guna sebagai antisipasi jika Kutai Timur
terindikasi penularan.

“Kami terus membentuk tim kesehatan guna mengantisipasi virus tersebut, apalagi wilayah kita akan dibuka jalur perdagangan bebas, hal itu tidak menutup kemungkinan akan membawa virus-virus dari luar masuk ke wilayah kita”tegasnya.

Lebih lanjut “Penyakitnya sejenis, hanya saja SARS tingkat kematiannya hanya 10 persen, berbeda dengan corona yang lebih ganas, bahkan angka mematikannya bisa mencapai Lima puluh (50) persen. Penularannya terbilang sangat cepat,” ucap Bahrani.

Setiap hari warga Kutai Timur ada saja yang pergi umrah dan jamaah haji pun rutin berangkat saat bulan haji, juga banyaknnya tenaga kerja Indonesia bekerja di luar negeri (TKI-TKW) . Mereka semua akan kembali ke tanah air dan berpotensi membawa virus yang berasal dari unta dan kelelawar itu.

“Jadi kami harus bekerja ektra, cegah daerah agar tidak KLB. Terlebih daerah pelabuhan, bahkan sebentar lagi pelabuhan kenyamukan akan dibuka. Maka dari itu kita semua harus berjaga-jaga,jika bepergian keluar rumah harap memakai masker,” imbuhnya.

Beberapa upaya terus dilakukan pihaknya. Bahrani mengatakan Indonesia tekhusus Kutai Timur yang memiliki jamaah haji dan umrah yang sangat tinggi. Maka dari itu kami akan terus melakukan sosialisasi. Selain itu membentuk tim pencegahan oleh tim medis di pelabuhan ataupun mess jamaah sesuai SOP sebagai antisipasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *