Harga Ayam dan Telur Meroket, Pedagang Kecil Menjerit.

teropongmedia.com,Sangatta- Tingginya harga ayam dan telur yang terjadi saat ini, tidak hanya di Kutai Timur, melainkan isu nasional, seluruh wilayah di Indonesia mengalami kenaikan. Hal ini tentu berimbas kepada para pelaku usaha makanan.

Di Bontang, harga ayam perekor mencapai Seratus dua puluh lima ribu (125.000) rupiah, sedangkan di Kutai Timur harga ayam mencapai Delapan puluh lima ribu (85.000) rupiah perekor.

Tidak kalah dengan ayam, Harga telur pun melonjak naik, yang semula harga telur kecil Tiga puluh lima ribu (35.000) per-rak, kini menjadi Lima puluh ribu (50.000) rupiah.

Banyak para pedagang makanan mulai resah, pasalnya harga ayam dan telur terlampau tinggi, hingga mereka kebingungan untuk menjualnya kembali.

Nurkhasanah (41) penjual nasi campur”Harga ayam mentah saja sudah mahal, jika kita olah dan dijual harga normal kita rugi, jika harga masakan dinaikkan pelanggan komplain, jadi kami pedagang kecil ini serba salah”ujarnya saat ditemui diwarung makan miliknya. Minggu (22/7).

Ia pun berharap kepada pihak pemerintah agar memberi solusi kepada para pelaku usaha makanan. Dan meminta agar pemerintah segera menstabilkan harga ayam dan telur.

“Semoga pemerintah mau mendengarkan keluhan kami, jika harga tetap bertahan tinggi, bisa-bisa kami gulung tikar”,ujarnya.

Kepala seksi Perdagangan dalam negeri Dinas perindustrian dan perdagangan Kutai Timur, Ahmad Dony Erviady pun turut menjelaskan terjadinya persediaan ayam yang kian menipis lantaran beberapa perternak masih dalam tahap pembibitan. Semua itu karena pemerintah sebelumnya memprioritaskan kebutuhan utama saat ramadan dan lebaran lalu.

“Ini yang pertama, Kutim mengalami penipisan persediaan ayam. Banyak sekali lapak pasar lokal yang kosong. Ya karena lebih diutamakan saat puasa dan lebaran kemarin. Belum lagi pengusaha restoran dan warung makan yang banyak menggunakan ayam. Jadi beberapa pengusaha masih melakukan pembibitan lagi,” terangnya saat ditemui diruang kerjanya.

“Kami ada peternakan lokal, tapi produksinya saat ini tidak mencukupi. Padahal kami sudah stop untuk distribusi keluar daerah. Namun masih saja tidak bisa memenuhi kebutuhan daerah. Jadi yang ada harganya sangat mahal,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *