Tak Hanya Sebabkan Kecacatan, Kusta Mematikan Perlahan

KUSTA MEMBUNUH: Dinkes saat memeriksa salah satu penderita

SANGATTA – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus berupaya menekan jumlah penderita kusta di seluruh kecamatan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati mengatakan pihaknya terus melakukan upaya sosialisasi pada masyarakat agar mengetahui penyakit kusta.

“Kami terus mengedukasi masyarakat. Nanti kami coba carikan leaflet yang sederhana untuk sosialisasi. Biasanya memberikan informasi tentang penyakit tersebut dan pengobatannya yang gratis,” ujarnya saat di konfirmasi beberapa waktu lalu.

Terpisah, Pengelola Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kutim, Misdian mejelaskan pada 2017 lalu ditemukan sebanyak 33 kasus kusta di Kutim. Kemudian memasuki tiga bulan pertama di 2018, ditemukan kembali sebanyak enam kasus kusta di sejumlah wilayah.

“Kusta sebetulnya penyakit yang sudah ada sejak lama. Bahkan penyakit yang berasal dari India dan Afrika ini merupakan penyakit tertua. Yang bermula ditularkan dari hewan armadilo dan simpanse. Hingga di Kutim sendiri setiap tahunnya selalu saja ditemui kasus baru,” jelasnya.

Menurutnya kusta terbagi atas dua tipe, yakni kusta PB (kering) dan MB (basah). Dengan metode pengobatan berbeda dan cukup lama. Terhitung mulai enam bulan dengan waktu tersingkat hingga satu tahun.

“Jika kusta kering yang pengobatannya enam bulan, memiliki ciri dengan bercak putih dan merah. Jika disentuh mati rasa, bahkan tidak gatal dan tidak ditumbuhi bulu. Bercaknya sedikit, hanya satu sampai lima saja. Berbeda dengan kusta basah, yang memiliki bercak lebih dari lima, lembab dan masa perawatannya lebih lama, sekira satu tahun lamanya,” terangnya.

Penyakit menular tersebut dapat berbahaya jika tidak diobati. Pasalnya kuman ‘mycobacterium lefra’ mampu merubah kondisi fisik menjadi cacat.

“Menurut pengalaman, pasien yang sudah saya temui, biasanya mereka berasal dari keluarga bertaraf hidup rendah. Usia termuda pengidap kusta di Kutim mulai dari sembilan tahun hingga lansia. Bisa saja disebabkan dari faktor daya tahan tubuh lemah dan kondisi kesehatan yang tidak stabil, menjadi penyebab cacat yang tidak bisa disembuhkan hingga mengancam kematian. Bahkan 2017 itu lalu, ada tiga pasien yang meninggal,” katanya.

Indikasi penularan belum diketahui secara pasti oleh pihaknya.
Namun dirinya mengatakan kusta dapat ditularkan melalui kotoran hidung. Adapun orang yang beresiko tertular adalah keluarga atau orang terdekat. Dia mengimbau, jika memang bertemu dengan pasien kusta segera diajak berobat. Karena kuman akan rusak hanya dengan mengonsumsi obat dari pelayanan kesehatan.

Dia berharap dapat membangun kerjasama lebih instens dengan puskesmas. Hal itu bertujuan untuk melakukan sosialisasi dan mengedukasi masyarakat Kutim.
“Saya berharap dapat bekerja sama lagi dengan teman-teman di puskesmas untuk berikan sosialisasi pada masyarakat supaya terhindar dari kusta. Kemudian pada masyarakat sendiri, jangan menganggap sepele pada panau, harus segera periksa,” terangnya. (LRS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *