Kisah 400 Tahun Silam, jadi Asal Usul Lomplai Suku Wehea

Kepala Adat Wehea Lejetak

teropongmedia.com Sangatta– Acara rutin tahunan adat Dayak Wehea, bernama Lomplai sudah menjadi kegiatan yang wajib dilaksanakan. Hal ini merupakan bentuk syukur karena telah diberikan hasil panen yang berlimpah.

Menurut sejarah, Lomplai sudah ada sejak 400 tahun silam.

Menurut Kepala Adat Wehea Desa Nehas Liah Bing Kecamatan Muara Wahau Kabupaten Kutai Timur, Lejetak (70) mengatakan Lomplai (Erau) sebagai bentuk penghormatan kepada padi.

“Menurut kepercayaan kami (Dayak Wehea), Lomplai sudah menjadi kegiatan yang wajib dilaksanakan setiap tahunnya, dimulai pada Maret hingga mencapai puncaknya yakni April,” jelasnya.

Baginya hal ini telah berlaku sejak dari leluhur, bahkan mereka telah disumpah untuk melaksanakan Lomplai secara berkesinambungan.

Konon katanya pada zaman dahulu pernah terjadi kesulitan swasembada, kemudian Ratu Long Diang Yung pernah didatangi Dokton Kenyony (Malaikat) dan diberi mimpi untuk mengorbankan anak semata wayangnya demi menyelamatkan nyawa orang banyak.

Setelah disepakati bahwa orang banyak harus diselamatkan. Putri Long Diang Yung dikorbankan, kemudian hari menjadi gelap gulita dan hujan sangat lebat, seketika di tempat Putri tersebut ditumbuhi bulir-bulir padi, dan sejak itu masyarakat menjadi sejahtera. Namun Ratu Diang Yung bersumpah agar warga Wehea melaksanakan upacara adat untuk menghargai padi sejak saat itu.

“Padi harus dihargai, supaya pada masa tanam tahun mendatang dapat tumbuh subur dan memberi hasil yang berlimpah,” tandasnya. (Fys)

Penulis : Fitriani Yusuf
Editor : LRS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *