Tak Hanya Stunting, Kutim Dinyatakan Rentan Microsefali

Jemy Mende bagian program gizi Dinas Kesehatan Kutai Timur

teropongmedia.com Sangatta — Microsefali atau Microsefalus merupakan kondisi dimana kepala bayi secara signifikan lebih kecil dari yang diharapkan, biasanya disebabkan oleh perkembangan otak yang tidak normal. Di Kutai Timur (Kutim) cukup banyak anak terlahir dengan keadaan seperti ini.

Tidak hanya stunting (kerdil), microsefali juga menjadi momok menakutkan bagi sebagian ibu hamil. Penyakit itu sangat memengaruhi perkembangan otak bayi.

Di Kutim, khususnya Kecamatan Bengalon Desa Sekurau, terdapat satu keluarga terdiri dari tujuh anggota keluarga, empat diantaranya terlahir microsefali.

Hal ini menjadi perhatian penting bagi Dinkes dan Dinsos Kutim. Dimana, pihaknya telah menyambangi kediaman mereka dan memberikan bantuan gizi.

Menurut Jemy Mende, petugas Dinas Kesehatan Kutim bagian Program Gizi menjelaskan anak terlahir dengan keadaan kepala lebih kecil dominan karena kurangnya asupan gizi dan faktor genetik yang memengaruhinya.

“Baiknya saat ibu sedang hamil harus mengontrol jumlah yodium, karena jika kekurangan bisa menyebabkan bayi terlahir microsefali dan ada juga bawaan genetik atau perkawinan sedarah,” jelasnya.

Ia menjabarkan jika gejala penyakit ini bervariasi dan mencakup cacat intelektual serta keterlambatan bicara. Pada kasus yang parah, mungkin ada kejang dan fungsi otot yang abnormal.

“Tidak ada obat penyembuh untuk mikrosefali. Penanganannya berupa perawatan suportif, manajemen gejala, dan pemantauan ketat,” ungkapnya saat ditemui di Kantor Dinkes Bukit Pelangi.

Untuk sementara, jumlah pengidap microsefali belum terdata dengan spesifik. Saat ini masih dilakukan peninjauan dan pendataan. (Fys)

Penulis : Fitriani Yusuf
Editor : LRS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *