Kasus Gizi Buruk Anak Meningkat, Perlu Penangana Lintas Sektor

Bagian program gizi Dinkes Kutim Jemy Mende

teropongmedia.com Sangatta– Meningkatnya kasus gizi buruk masih menjadi PR bagi pemerintah Kutai Timur.

Dikenal sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alamnya, namun masih ditemukan penderita gizi buruk di kabupaten ini.

Dilson, bayi berusia tujuh bulan dan berasal dari Kecamatan Bengalon ini mengalami gizi buruk. Hal itu disebabkan oleh Nelcyana (23), ibu bayi ditinggalkan suaminya saat mengandung anak keduanya tersebut.

Menurut pengakuan Nelcyana, kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, Dilson mengalami sakit, sekujur badannya hampir ditumbuhi benjolan seperti bisul, sejak saat itu Dilson enggan makan hingga tubuhnya menyusut sangat drastis. Bahkan juga tidak mendapatkan asupan ASI karena kondisi ibu yang tidak sehat sejak pasca melahirkan.

Kasie Kesehatan Keluarga Gizi Mursyid, melalui Bagian program gizi Dinkes Kutim Jemy Mende menuturkan, penangan telah diupayakan oleh Puskesmas Bengalon, namun penderita gizi buruk tersebut mengalami komplikasi penyakit penyerta.

“Sejak awal, penanganan sudah dilakukan oleh pihak Puskesmas Sepaso dan atau dirujuk apabila ada dugaan komplikasi (penyakit penyerta), Rumah Sakit akan melaksanakan tindakan sesuai kondisi penderita,” jelasnya saat dikonfirmasi melalui via telepon.

Jemy menambahkan, jika saat ini Nelcyana terbentur masalah biaya, saat dikonfirmasi dirinya dan anak-anaknya tidak memiliki biaya bahkan jaminan kesehatan (BPJS) untuk melakukan pengobatan.

“Namun terkadang menjadi persoalan terbesar yakni terkait biaya, tetap akan dilakukan tindakan, apalagi si ibu dan anak tidak punya jaminan BPJS perlu waktu kurang lebih 20 hari untuk penerbitan kartu itu, semoga saja ada donatur yg tergerak hatinya,” tukasnya

Sektor lain juga terlibat seperti Dinas Sosial (Dinsos) Kutim terkait dana bantuan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan tindak kekerasan perempuan dan anak (DPPPA).

Tingginya masalah anak penderita gizi buruk disebabkan oleh berbagai faktor yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Diketahui berdasarkan pengukuran antropometri seperti pertambahan berat badan, tinggi badan atau panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan dan lain-lain. (fys)

Penulis : Fitriani Yusuf
Editor : LRS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *