Luncurkan Buku, Kampus Cerita Wisuda Tujuh Peserta

SANGATTA – Tujuh mahasiswa dari Kampus Cerita malam ini diwisuda oleh founder atau dengan nama lain kepala sekolah, di Coffee Time pada Jumat (19/7).

Founder Kampus Cerita, Junius Andria yang juga sebagai Duta Baca Kaltim dalam bukunya mengatakan malam ini merupakan agenda wisudawan sekaligus peluncuran buku puisi bertema ‘Cinta Seadanya’ karya bersama timnya.

“Kelahiran buku ini dimaksudkan sebagai tanda kelulusan para penulis muda di Kampus Cerita, yang berbulan-bulan meluangkan waktu dan tenaga,” tulisnya dalam kata pengantar buku tersebut.

Ia berharap kelahiran buku tersebut dapat menambah warna baru dalam dunia sastra populer ataupun puisi modern di Indonesia.

Wanita kelahiran Surabaya, 07 Juni 1991 silam, mulai menapaki kehidupan di Kutim pada

2006. Ia mengaku sangat mencintai buku, sehingga dirinya berupaya menularkan virus gemar baca pada khalayak ramai.

Kampus cerita ini menurutnya, merupakan motivasi untuk belajar menulis. Dengan bertemu banyak teman baru, wanita berhijab alumnus Universitas Mulawarman jurusan ilmu komunikasi tersebut berupaya menjalin koordinasi. Bermodalkan gemar membaca, dia mengaku optimistis mampu mengajak kaum muda untuk menulis.

“Dengan taraf minat buku kita yang rendah, saya ingin menyebarkan minat baca dan menulis lebih meningkat. Program sosial dengan menyentuh literasi ini sangatlah penting,” bebernya.

Tak berpangku harapan, pihaknya merasa mampu menjalankan tupoksi, dan tak berharap lebih pada pemerintah.

“Saya berharapnya pemerintahan bisa lebih perhatian. Tapi kalau tidak juga kami akan tetap berjalan,” katanya.

Pustakawati di salah satu sekolah swasta ini merasa berhutang budi pada daerah jika tidak bisa menyelesaikan misi.

“Ini utang sosial, bagaimana anak bisa berminat pada buku, pertama dimulai dari Kutim sendiri.
Tdk ada buku lah yang membuat saya cemas,” terangnya.

Mantan Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman yang turut hadir menyampaikan rasa bangga pada seluruh penulis muda yang telah melahirkan karya baru.

“Ini adalah sumbangsih yang luar biasa, apa lagi tulisan bisa menjadi inspirasi bagi orang banyak. Jangan pernah berhenti untuk menulis,” katanya dalam sambutan.

Menurutnya, kalau seorang penulis punya penyakit malas, hal itu akan menjadi penyebab mangkraknya karya dan berbahaya.

“Teman-teman ini diharap mampu menjadi generasi penerus yang untuk menulis, agar bisa mewabahkan sudut pandang dan melebarkan sayap literasi di daerah,” tuturnya. (LRS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *