Perangi Penyakit Menular Seksual, Dinkes Kutim Hadirkan Dokter Kondang

teropongmedia.com Sangatta– Seiring berjalannya waktu dan banyaknya pergaulan bebas yang merebak di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim hadirkan Ginekolog dan konsultasi Seks, Dokter Boyke Dian Nugraha Sp OG MARS.

Bekerjasama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Kutim, pihaknya menggelar seminar kesehatan IMS dan kanker serviks di Gedung Wanita kawasan Bukit Pelangi Jumat (16/8).

Berdasarkan data yang diperoleh Dinkes Kutim, terdapat sebanyak 431 kasus PMS dan kasus kanker serviks mencapai 37 orang (data seksi PPTM Dinkes, 2018-2019). Data tersebut diperoleh melalui kegiatan deteksi dini dan iva test yang dilakukan oleh tenaga kesehatan bekerja sama dengan PKK dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) cabang Kutim.

Menurut Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) cabang Kutim, Hj Encek UR Firgasih SH MAP mengatakan, persoalan kemanusiaan dan kesehatan adalah tangggung jawab bersama. Terutama untuk berpartisipasi dalam mencerdaskan masyarakat Kutim terkait pencegahan dan penanganan penyakit menular seksual dan kanker serviks.

“Ini tugas kita bersama, berikan edukasi tentang bahaya seks bebas sejak dini agar kita dapat mencegah bertambahnya kasus PMS di Kutim,” tuturnya.

Dokter Boyke juga memberikan penjelasan mengenai bahaya kanker serviks yang siap mengintai para wanita. Kanker serviks, merupakan penyakit yang menyebabkan kematian terbesar.

“Pada perempuan komplikasi serius atau sekuele, diharapkan seluruh peserta yang hadir memperoleh pengetahuan tentang penyakit IMS dan kanker serviks serta harus tahu bagaimana cara mencegahnya,” ujarnya.

Gejala penyakit menular seksual tidak selalu tampak jelas. Namun, gejalanya bisa muncul lebih parah pada wanita daripada pria. Jika wanita terkena penyakit menular seksual dan lalu hamil, dampaknya dapat menyebabkan masalah kesehatan serius bagi bayi yang dikandung hingga dilahirkan.

Kepala Dinkes Kutim dr Bahrani MAP menjelaskan bahwa beban akibat meningkatnya IMS merupakan permasalahan kesehatan di berbagai tempat. Baik di negara maju maupun negara berkembang. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor, di antaranya perilaku seksual beresiko serta perkembangan pariwisata.

“Kita berharap kerjasama antara lintas sektor dan kepedulian masyarakat sebagai strategi yang sangat berpengaruh besar terhadap upaya pencegahan dan penanganan IMS dan kanker serviks. Sebagai wujud kepedulian dan dukungan terhadap kesehatan masyarakat Kutim, khususnya kaum perempuan,” tutupnya. (FYS/LRS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *