Jaga Warisan Budaya, Hidupkan Lagi Gasing

SANGATTA – Permainan gasing yang pernah terkenal di jaman dahulu, saat ini tidak dilirik lagi. Padahal pada masanya, gasing sulit dipisahkan dari keseharian warga Kutai. Dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa, masih meminati aneka jenis permainan tradisional yang telah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lampau itu. Permainan adu ketangkasan memutar gasing ini pun menjadi salah satu tontonan menarik minat masyarakat.

Namun ada yang berbeda, permainan lawas ini kembali dihidupkan oleh pemuda Sangatta Selatan bernama Muzhaf (23). Putra kelahiran Bamba, 9 Desember 1996 ini sangat beritikad mengenalkan kembali permainan tersebut pada anak sebagai generasi penerus. Dia berusaha menyingkirkan paradigma kelam tentang nama Kampung Kajang. Sehingga, seluruh kemampuan edukasi yang dimilikinya, ia susupkan pada anak di lingkungannya.

“Kegiatan ini merupakan kali pertama diadakan, kebetulan juga pas dengan HUT RI. Karena mulai punah makanya saya kenalkan lagi ke anak-anak sekitar Kampung Kajang. Saya dari umur tiga tahun sudah tinggal disini, saya berusaha meyakinkan pada Kutai Timur tidak semua kegiatan di kampung saya buruk, tetapi masih ada hal positifnya,” kata dia saat dikonfirmasi pada Jumat (23/8).

Berkat pengenalan tersebut, sejumlah anak-anak memiliki minat untuk melestarikannya. Ketertarikan itu terlahir dari kebiasaan Muzhaf mengajarkan begasing sejak dua bulan belakangan.

“Kalau peminatnya sendiri sangat banyak, hampir rata-rata anak kecil dan remaja seusia SD, SMP dan SMK tertarik permainan ini,” ujarnya.

Menurutnya, bisa atau tidak, dia merasa begasing sangat dinikmati oleh pemainnya. Dengan minat tinggi itu, setiap anak berupaya membuat gasing masing-masing. Ada yang meminta dibuatkan orangtuanya, ada pula yang memesan pada pengrajin. Ulin atau banggeris, kayu khas Kalimantan ini menjadi bahan baku terbaik yang dipilih. Selain karena kekuatan dan kekerasannya, tapi juga karena serat yang pas.

Tak ayal, dengan budaya yang ia kembangkan saat ini, kerap menularkan minat ke desa tetangga. Sebab, sejumlah anak di luar perkampungannya lebih akrab dengan gadget. Sehingga, ia juga tak segan mengajak orang-orang dari luar Kampung Kajang untuk bergabung.

“Biasanya anak-anak dari luar Kampung Kajang yang kebetulan main di lingkungan kami sering bingung, karena mungkin mereka jarang melihat permainan ini. Saya berharap, selain gasing, permainan lain bisa saya rambah dan dikenalkan ke ranah yang lebih luas agar tetap terjaga hingga masa mendatang,” tutupnya. (LRS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *