Kekurangan SDM, BPBD Harap Elemen Lain Proaktif

SANGATTA – Titik api makin merambah di Kutai Timur (Kutim), hal ini menyebabkan kabut asap semakin menjadi-jadi. Namun, nampaknya permasalahan ini semakin sulit dikendalikan, sebab Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim kekurangan personel.

Dijelaskan oleh Kepala BPBD Kutim, Syafruddin, kondisi saat ini pihaknya hanya memiliki 76 pegawai. Padahal standarnya badan penanggulangan bencana minimal mempunyai 150 pegawai.

“Untuk menangani karhutla tidak mudah. Terlebih kami banyak perempuan dan tidak bisa dimaksimalkan,” ujarnya dalam laporan coffee morning, Senin (16/9).

Selain sumber daya manusia, dirinya menjelaskan kekurangan unit pemadaman. Seperti minimnya tangki air. Sehingga dirinya langsung melakukan pemesanan sejumlah unit.

“Semoga bisa cepat datang September ini. Karena ancaman karhutla bisa sampai Desember,” ujarnya.

Dia meminta pada seluruh elemen agar dapat sama-sama menangani karhutla. Hal itu mengacu pada UU 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana. Dimana dalam menangani hal itu merupakan tanggung jawab pemerintah, masyarakat dan dunia usaha.

“Dalam pasal 5, pemerintah tanggung jawab atas bencana, pasal 26 masyarakat berpartisipasi, dan pasal 28 dunia usaha dan internasional juga mengambil andil,” jabarnya.

Ia menginginkan pemadam kebakaran, PDAM, Dinas Lingkungan Hidup, seerta unit kebersihan, dapat lebih proaktif membantu penanganan api. Kendati demikian, pihaknya mengaku siap tetap menjadi leading sektor.

“Pengalaman kemarin, tim kami lagi memadamkan di daerah Jalan Majai Sangatta Utara, terus Camat Sangatta Selatan menelpon di daerahnya juga terjadi kebakaran, ini membuat kami risau, karena kami kekurangan tenaga,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, menurutnya, Dinas Pertanian juga bisa menjadi ujung tombak untuk sosialisai pada petani agar dapat menjaga lahannya. Sebab tiap hari petani berkebun, sehingga mereka bisa siap siaga. Menurutnya, mayoritas kebakaran terjadi rata-rata sekira pukul 04.00 sore. Data tersebut dihimpun dari laporan harian yang diterimanya.

“Sekecil apapun titik api sangat perlu diwaspadai. Kami sering kesulitan tidak ada air, padahal titik api besar. Inginnya semua elemen bisa bahu-membahu,” harapnya.

Di tempat yang sama, Asisten 1 Pemkab Kutim, Suko Buono meminta pada seluruh elemen agar proaktif. Dibakar atau tidak, menurutnya hal ini memang riskan. Sehingga peranan pemerintah, masyarakat dan stakeholder merupakan hal penting yang harus bersatu.

“Sampaikan pada Kadisdik agar dapat diteruskan ke seluruh orangtua murid supaya dapat mewanti hal ini. Hal lain juga, misal keterbatasan sarana-prasarana dapat meminta bantuan pada perusahaan. Karena stakeholder juga punya peran dan tanggung jawab dalam problema ini,” katanya. (LRS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *