Kutai Timur Meski Hujan, Titik Api Terus Diwaspadai

SANGATTA – Hingga musim penghujan mulai mengguyur Kutai Timur, titik api masih kerap muncul di sejumlah kecamatan. Terutama di Muara Ancalong yang digadang-gadang menjadi lokasi paling sering terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut data yang dihimpun sejak Januari sampai September 2019, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim, menetapkan 116 kasus karhutla. Namun jika diupdate hingga Oktober 2019, diperkirakan kasus karhutla mencapai 250 temuan, yang didominasi oleh faktor kesengajaan pembakaran lahan gambut.

Kordinator Pusdalop BPBD Kutim, Sukasno Haryanto mengatakan pihaknya masih siaga, mengikuti arahan surat keputusan yang menyatakan berjaga hingga Desember.

“Walaupun musim hujan gini, masih tetap ada hotspot yang membuat kami siaga. Apalagi kalau hujan ringan, hanya atasnya saja yang padam, tapi di bawahnya tetap menyala apinya,” katanya saat disambangi di ruang kerjanya pada Kamis (3/9).

Data sementara tersebut yakni Sangatta Selatan 53 hektare, Sangatta Utara 38 hektare, Teluk Pandan enam koma lima hektare, Rantau Pulung lima hektare, Muara Ancalong 300 hektare, Sandaran dua koma lima hektare, Kongbeng tiga hektare, Kaliorang satu hektare, Batu Amar 10 hektare, Sangkulirang satu hektare, Bengalon empat koma empat hektare dan yang belum terhimpun yakni Muara Bengkal, Long Mesangat, dan Telen.

“Sampai 2 Oktober kemarin masih terjadi karhutla di Sangatta Selatan, Muara Wahau, dan Bengalon. Ini diupdate melalui sistem Sipongi, biasanya api muncul jam 2-4 siang. Rata-rata 90 persen dibakar,” tuturnya.

Menurutnya, provinsi memperkirakan 230 kasus karhutla terjadi di Kutim dan masih terpantau sampai sampai saat ini.
Beragam cara telah dilakukan, salah satunya dengan sosialisasi tentang kebijakan nasional pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Namun belum berdampak besar.

“Cara paling efektif sebenarnya dengan tanam nozel di lahan gambut, tapi kami belum punya alat itu, jadi belum bisa memadamkan 100 persen. Saat ini masih menggunakan mesin, dibantu suplai air oleh perushaan sekitar. Karena disana minim embung air,” jabarnya.

Kondisi saat ini menurutnya memang berkurang, hanya timbul satu atau dua titik api. Namun hal tersebut tak bisa dibiarkan, sebab dikhawatirkan dapat menjalar ke wilayah sekitar.

“Tahun ini kewalahan, padahal sudah dibantu TNI-Polri dan elemen lain. Mudahan BPBD punya alat yang bisa mengatasi. Karena kalau pakai yang seadanya kami padamkan bisa sampai jam 12 malam,” terang dia.

Dengan adanya kejadian seperti ini, pihaknya berencana untuk membentuk masyarakat peduli api (MPA), untuk menekan karhutla di 2020 mendatang.

Di tempat terpisah, Kapolres Kutim, AKBP Teddy Ristiawan menjelaskan sampai dengan hari kasus karhutla masih diwaspadai. Senada dengan BPBD, dirinya mengakui kasus kebakaran lahan dan hutan kali membuat kewalahan. Sebab pembakaran disengaja membuat daftar kasus yang ditangani menjadi polemik yang serius.

Penangananpun baginya cukup sulit, lompatan api yang disebabkan oleh angin yang cukup besar, membuat rambatan api bergerak cepat. Kemudian, kondisi air di sejumlah kecamatan ikut mengering karena kemarau berkepanjangan. Padahal pihaknya telah mendapat bantuan dari TNI dan BPBD serta Damkar juga elemen lain.

“Kutim merupakan daerah dengan karhutla tertinggi ke dua se kaltim, kami ekstra khusus menanganinya, jangan sampai kita jadi penyumbamg asap ke daerah sebelah,” ujarnya.

Dirinya berhasil mengamankan sekira 11 kasus dengan jumlah tersangka 15 orang. Beragam barang bukti berhasil diamankan, seperti korek, kertas, bensin dan bahan pemicu pembakaran lainnya,” tutunya.

Tidak ada kejadian di lahan perushaan, menurutnya hanya dampak yang mengenai kawasan sekitar perusahaan. Hal itu terjadi di PT. SAS yang sempat mengalami kerugian sebabr terkena kobaran api.

“Terbanyak masih di Sangatta Utara. Mereka yang sengaja maupun tidak sengaja, iseng, membakar sampah, dan membuka lahan. Tetap ditangani, saat ini sudah banyak di Polres. Ancamannya beda-beda, ada yang paling dikit lima tahun,” jabarnya.

Menurutnya, tahun ini merupakan kasus terbanyak dari tahun-tahun sebelumnya, di seluruh Indonesia. Diketahui, angka hotspot telah turun, tapi harus tetap siaga,” jelasnya. (LRS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *