Dinkes Kutim Tak Lagi Gunakan Ranitidine

SANGATTA – Dinas Kesehatan Kutai Timur memutuskan untuk menghentikan penggunaan obat asam lambung ranitidine. Sebab merk tersebut dianggap memicu kanker.

Hal itu sesuai dengan arahan Badan Pengawas Obat dan Makanany (BPOM) Republik Indonesia. Dimana pusat telah memerintahkan penarikan 5 produk Ranitidine yang terdeteksi mengandung N-nitrosodimethylamine ( NDMA).

Sebelumnya, BPOM juga melakukan pengujian terhadap beberapa sampel produk obat Ranitidin. Hasil uji tersebut menyimpulkan sejumlah produk obat Ranitidin mengandung cemaran NDMA melebihi ambang batas normal.

Dengan dasar hasil pengujian itu, BPOM memerintahkan beberapa perusahaan farmasi menyetop produksi dan distribusi obat Ranitidin yang mengandung NDMA melampaui ambang batas. BPOM pun meminta produk-produk obat tersebut ditarik dari peredaran.

Sehingga, Kadinkes Kutim, Bahrani melaksanakan intruksi tersebut dengan upaya penyetopan penggunaan baik di puskesmas maupun rumah sakit. Sebab memang dapat menyebabkan kanker.

“Sebelumnya memang paling sering digunakan, namun sesuai arahan karena mengandung psikotropika maka harus dihentikan,” ujarnya saat diwawancarai pada Kamis (10/10).

Bahkan menurutnya, obat-obatan lain terus dievaluasi. Sehingga saat ini semakin banyak obat yang tidak dijual-belikan secara bebas. Terlebih jika mengandung bahan obat keras.

“Sebenernya kandungan seperti itu harus dihilangkan. Sama seperti obat batuk yang disalahgunakan untuk mabuk, obat nyamuk, bahkan pembalut wanita. Ini bisa membahyakan nyawa,” ungkapnya.

Salah satu apoteker di apotek Sangatta membenarkan sejumlah jenis Ranitidine telah ditarik langsung oleh pabrik. Sehingga distribusi kini tidak lagi diterimanya. Padahal obat tersebut merupakan salah satu yang terlaris.

“Tidak semua jenis Ranitidine, masih ada yang bisa dijual tapi beda jenisnya,” kata wanita berhijab ini.

Dia mengaku belum mendapat imbauan dari Dinkes Kutim, hanya saja perintah penting tersebut berasal dari pusat.

Terpisah, warga Sangatta Selatan, Ratimi (55) menyayangkan pemberitahuan yang tergolong lamban, sebab dirinya telah mengonsumsi obat ini sejak tiga tahun lalu.

“Bagaimana kalau obat ini saja yang bisa menyembuhkan, kok baru ditarik sekarang, saya saja betahun-tahun pakai ini,” jelasnya. (LRS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *