Kehigienisan Air Isi Ulang di Sangatta Meragukan

SANGATTA – Waspada, masih banyak depot pengisian air minum isi ulang di Kutai Timur yang belum melakukan uji laboratorium. Hal ini dikarenakan fasilitas pengujian air masih terbatas. Selain itu, Labkesda Kutim juga tidak membuka pelayanan umum lantaran belum adanya tarif retribusi.

Bidang Kesehatan Lingkungan Dinkes Kutim, Yeni menyampaikan uji kualitas air dengan parameter kimia dan bakteriologis kerap dibawa ke Labkesda Samarinda, sebab Labkesda di Kutim menurutnya tidak bisa melakukan pelayanan, karena belum ada tarif retribusi.

“Labkesda Kutim sudah bisa melayani pemeriksaan air parameter bakteriologis dan pemeriksaan makanan, harapannya kalau sudah ada tarif retribusi kita bisa melayani pemeriksaan air disini,” harapnya.

Adapun tarif retribusi dibuat berdasarkan kajian bersama antara Pemda dan DPRD setempat.

“Sesuai Permenkes 492 persyaratan kualitas air minum, sedangkan kendala bagi pemilik depo adalah biaya pemeriksaan laboratorium di Samarinda sangat mahal. Untuk pemeriksaan lengkap kimia dan bakteriologis dikenai harga Rp 1.670.000 per enam bulan sekali,” jabarnya.

Hal itu juga diduga menjadi salah satu penyebab pemilik depo galon tidak melakukan uji lab pada air yang dijualnya ke masyarakat.

Sementara itu. Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Bahrani juga menuturkan bahwa selama ini pengujian air selalu dikirim ke Samarinda. Namun karena harus menunggu, dirinya berinisiatif untuk meminta pengadaan alat pengujian air.

“Kami selalu mengirim ke Samarinda, makanya sekarang sudah pesan alat untuk uji air, di APBD Perubahan kemarin kami adakan alat. Dari dulu sebelum saya menjabat, uji air selalu seperti ini, jaman saya menjabat sekira 2017 lalu saya mengesahkan perda air minum,”ujarnya saat di temui, Senin (21/10).

Hal ini menurutnya sangat riskan dan perlu diatur, sebab banyak usaha kecil galon yang mengabaikan dan tidak melakukan uji lab. Jika tidak diantisipasi, hal ini bisa menjadi pemicu penyakit semakin mudah berkembang.

“Jangan sampai microbanya banyak, bahaya bisa menyebabkan diare atau bahkan kandungan logamnya juga tinggi. Sejak ada perda itu langsung kami perketat,” tandasnya. (LRS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *