Tahun Depan, IKM di 18 Kecamatan Akan Dibantu Disperindag

SANGATTA – Industri kreatif meliputi industri kerajinan di Kutim masih mengalami kendala dalam proses perkembangannya. Salah satunya dari kemasan yang belum memadai untuk dipasarkan secara nasional. Kelemahan kemasan tersebut disebabkan karena peralatan yang tersedia belum mumpuni.

Tidak hanya itu, minimnya pelaku usaha dan sedikitnya minat pesanan di Kutim juga membuat sekira 30 persen Industri Kecil Menengah (IKM) menjadi vakum. Padahal omzet yang akan diraup berpotensi cukup tinggi. Segi modal dan pendanaan juga sepertinya merupakan salah satu hambatan.

Kepala Dinas Perindustian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kutim, Zaini mengatakan sekira 200 IKM yang telah dibina meski tidak khusus, namun tidak semuanya aktif. Sehingga hal itu menjadi tugas khusus untuknya agar dapat menggaungkan supaya kembali aktif untuk berproduksi.

“Memang tidak semuanya aktif, karena ada beberapa pengusaha yang mengandalkan pesanan atau pameran saja, kemudian stop produksi saat tidak ada yang memesan. Izin kesehatan juga masih jadi PR,” katanya saat diwawancarai pada Selasa (22/10).

Dengan adanya permasalahan yang dihadapi, dirinya akan kembali mengembangkan usaha-usaha kreatif di 18 kecamatan se Kutim.

“Kami dapat dana bankeu dari provinsi sekira Rp 13 milyar. Ini sudah diajukan sekira dua tahun lalu, di tahun depan akan digunakan untuk pengembangan seluruh IKM, termasuk untuk alat penunjang,” bebernya.

Saat ini pihaknya masih melakukan inventarisasi dan baru mencapai delapan kecamatan seperti Sangatta Utara, Sangatta Selatan, Kaliorang, Muara Ancalong, Muara Bengkal, Bengalon, Rantau Pulung dan Teluk Pandan. Selain itu, Zaini mengaku terus memonitor setiap setahun dua kali.

Banyak produk andalan dari Kutim yang sebenarnya dapat menembus pasar modern. Seperti coklat dari Karangan dan Kaubun, Amplang Batu Bara, batik khas Kutim, hingga kerajinan daur ulang yang belum digarap oleh daerah lain.

“Coklat dari Karangan malah sudah kerjasama dengan Jepang. Sebelumnya kami kurang memerhatikan karena keuangan belum cukup. Makanya sekarang dianggarkan agar daerah-daerah yang belum bisa berkembang juga,” ungkapnya.

Dia berharap setelah inventarisasi ini, seluruh IKM yang telah dikunjungi dapat lebih aktif dan melahirkan inovasi baru.

Kendala tersebut tidak hanya terjadi di Kutim saja, menurut Kadisperindagkop Provinsi Kaltim, Fuad Asaddin mengakui masih banyak kelemahan dari IKM yang ditemuinya di sejumlah daerah.

“Untuk memperkenalkan program pelaku usaha ini pemerintah juga harus berperan aktif. Berbagai potensi yang dimiliki harus dikembangkan. Masih banyak kekurangan yang harus diselesaikan agar industri kreatif bisa maju,” kata dia.

Dia mendorong agar Kutim bisa sejajar dengan daerah lain. Menurutnya hal itu sangat mudah, asalkan IKM di Kabupaten ini mampu menciptakan karya yang unik dan bermanfaat.

“Walaupun sedikit, tapi diharap bisa memberi manfaat pada pendaur. Kami fokus pada hasil daur ulang yang ada di masyarakat. Supaya bisa sejajar dengan daerah lain. Dengan syarat harus potensial bahan baku dan pelaku,” tandanya.

Segala kelemahan baginya harus difikirkan secara matang, seperti bahan baku yang belum konsisten, pengrajin masih minim, belum memiliki standard khusus, cara memasarkan belum benar, serta memilih mitra masih belum banyak.

“Kita harus bisa baca peluang dan siap untuk membenahi kualitas produk,” tutupnya. (LRS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *