Cegah Permainan Harga, Disperindag Turun ke Pasar

SANGATTA – Banyaknya laporan kenaikan harga bahan pangan yang beredar di kalangan masyarakat menjadi pekerjaan rumah (PR) untuk pemerintah daerah. Melalui Disperindag Kutim dan UPT Pasar Induk, seluruh harga dicek langsung agar tidak ada permainan.

Seperti diberitakan sebelumnya, harga daging sapi dan ayam segar di pasar sejumlah tradisional Sangatta Selatan dan Sangatta Utara mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir.

Dari harga daging sapi yang biasanya Rp 120 ribu per kilogram, saat ini mencapai Rp 135 ribu per kilogram. Selisih harga tersebut mencapai Rp 15 ribu per kilo gram. Lonjakan harga juga meliputi daging ayam yang mencapai Rp 45 ribu per kilogram, dimana sebelumnya diketahui hanya berkisar Rp 28-30 ribu per kilogram.

Tidak hanya daging, kenaikan harga terpantau pada cabai yang sebelumnya Rp 45 ribu saat ini mencapai Rp 55 ribu per kilogram. Bawang merah sebelumnya Rp 15 ribu sekarang menembus Rp 22 ribu per kilogram. Hal ini disebabkan karena masa panen raya di Indonesia telah usai. Sehingga harga semakin melonjak.

Kepala UPT Pasar Induk Sangatta Utara, Buhori mengatakan kenaikan harga dipicu oleh beragam alasan. Namun saat ini harga tidak melebihi ambang batas, menurutnya masih relatif normal dan tidak berdampak signifikan pada pembeli yang mengunjungi pasar. Dia juga menegaskan tidak adanya kaitan dengan perayaan Natal mendatang.

“Biasanya pedagang membeli sapi dari luar Kalimantan, ongkos ke Sangatta memang agak mahal. Karena di Sangatta sendiri tidak ada peternakan besar yang menjadi pemasok utama,” katanya saat diwawancarai pada Kamis (24/10).

Selain itu, minimnya kulkas pembeku merupakan kendala bagi pedagang yang akan menyetok daging. Sebab frezer tersebut hanya cukup menampung sekira 100 kilogram.

Terpisah, salah satu pedagang daging di Pasar Induk bernama Arham menduga kenaikan harga disebabkan biaya transportasi yang cukup besar. Pasalnya sapi-sapi tersebut didatangkan langsung dari Sulawesi.

“Kadang yang datang empat mobil, per mobil isinya 12 ekor, rata-rata yang datang sebanyak 160 ekor. Semuanya dari Sulawesi, karena disini tidak ada peternakan. Makanya beli dari luar,” ungkapnya.

Hal ini menyebabkan banyaknya sapi impor masuk ke Indonesia, termasuk Kutim. Oleh sebab itu, pemerintah bekerja ekstra untuk melakukan pencegahan.

Berbeda dengan Nana, salah seorang pedagang ayam. Menurutnya kenaikan harga sering naik-turun. Bahkan perubahan harga dapat terjadi empat kali dalam sebulan.

“Naik turun harga karena stok dari kandang lokal tidak banyak. Jadi penjualannya itu berubah-ubah,” ungkapnya. (LRS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *