Jelang Tahun Baru, Pedagang Jagung Bertebaran

SANGATTA – Menjelang tahun baru 2020, pedagang jagung manis mulai menjamur di Kabupaten Kutai Timur. Mereka berjualan melapak di atas trotoar, di sekitar Jalan Yos Sudarso 4 dan Jalan Road 9 Sangatta Utara. Terpantau sekira 20 lapak bertebaran sejak Senin (30/12). Bahkan tidak hanya melapak, sejumlah kendaraan pick up nampak ikut menjajakan ratusan jagung di atas kendaraannya. Diungkapkan oleh salah satu pedagang yang enggan menyebut namanya. Menurut wanita berjilbab tersebut, tahun ini panen komoditi jagung menurun. Sehingga, hasil tersebut langsung dibawa dan dijual sendiri. “Tahun ini hasil agak sedikit, jadi saya jual langsung. Kalau titip lagi ke orang, untung saya semakin tipis,” ungkapnya saat disambangi pada Senin (30/12). H-2 menjelang tahun baru menjadi fenomena tahunan bagi petani jagung, bahkan tidak sedikit pedagang ini bukan profesi sebenarnya. Dari ke 20 lapak yang terpantau, perempuan ini mendapat jagung dari Desa Kabo Jaya Sangatta Utara. “Kalau sehari-hari saya cuma jualan warung. Tapi karena ada momen, akhirnya saya coba jualan jagung,” tuturnya. Hal ini menjadi aji mumpung dan kesempatan emas bagi sejumlah masyarakat untuk meraup omzet lebih banyak. Biasanya, pedagang tersebut telah menargetkan penanaman tiga bulan sebelum tahun baru. Salah seorang warga Sangatta, Rina mengaku senang dengan banyaknya pedagang jagung. Pasalnya menjadi banyak pilihan kualitas dan harga terjangkau. “Saya senang kalau banyak pedagang, jadi bisa pilih-pilih mana yang harganya murah dan jagungnya bagus. Selain itu juga bisa beli dengan jumlah banyak tidak takut kehabisan,” tandasnya. Seperti diketahui saat ini harga jual jagung hanya Rp 2000-2500 per buah. Padahal jika hari-hari biasa harga jagung bisa mencapai Rp 3000-4000 per buah. Hal ini jelas tidak hanya menguntungkan pedagang saja, pun juga memberi keuntungan bagi pembeli. “Biasanya malam tahun baru banyak orang beli jagung untuk dibakar. Makanya harganya murah, karena surplus jagung biasanya terjadi,” jelas dia. Berbeda, Dini Rahmawati mengeluhkan banyaknya pedagang yang menjajakan dagangannya di trotoar. Menurutnya hal ini dapat menjadi pemicu kemacetan badan jalan. “Saya mau sepedaan jadi agak susah, pedagang jagung di trotoar, pembelinya parkir sembarangan. Kenapa mereka tidak jualan di pasar aja,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *