BPBD Kutim Butuh Personel Tambahan

SANGATTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim masih kekurangan pegawai. Dari 118 personel yang dibutuhkan, sejauh ini baru mencapai 88 orang. Bahkan 60 persen diantaranya didominasi oleh pegawai perempuan. Padahal, BPBD merupakan badan yang aktif berkecimpung di lapangan, terutama sangat menangani bencana yang terjadi. Sehingga membutuhkan banyak pegawai laki-laki. Sekretaris BPBD Kutim, Agung menjelaskan total kebutuhan untuk mengcover pekerjaan ideal harus ratusan orang dan untuk mencapai itu pihaknya masih kekurangan sekira 30 personel. “Kami masih kekurangan PNS dan juga tenaga di lapangan. Saat ini masih saling membantu antar satu dan yang lain,” ujarnya saat disambangi di ruang kerjanya pada Kamis (16/1). Saat ini, kantor tersebut hanya memiliki 31 PNS, standardnya kata dia BPBD seharusnya memiliki 45 PNS untuk mengcover pekerjaan terutama bidang administratif. Sedangkan, untuk TK2D, pihaknya membutuhkan tenaga lapangan sekira 20 orang. “Sejauh ini TK2D kami ada 57 orang. Itupun masih kurang untuk ditempatkan di operasional lapangan, pemadaman lansgung, pusat pengendalian, hingga operator dan pengendalian cepat,” tuturnya. Dirinya pun masih merasa kekurangan tenaga pengelola operator radio maupun pengelola website. Dia berencana akan mengadakan pelatihan spesifik untuk pekerjaan jenis tersebut. “Penerimaan TK2D bagusnya laki-laki karena banyak bertugas di lapangan, kalau PNS baru perempuan supaya bisa di ruangan,” tuturnya. Kebutuhan pekerja nampak signifikan saat akan menyelesaikan bencana. Seperti pengalaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang marak di 2019 lalu, menurutnya, ia merasa kekurangan personel saat akan memadamkan api di berbagai kecamatan. Sehingga harus membentuk tim relawan untuk membantu pengendalian. “Sebenarnya tidak kosong posisi-posisi tertentu, hanya saja kami merasa kewalahan, apalagi kalau ada kejadian. kelihatan sekali jumlah personelnya,” bebernya. Tidak hanya mengandalkan relawan, namun pihaknya juga mengoptimalkan stakeholder untuk mengatur strategi dalam menangani bencana sebab baginya hal ini merupakan tanggungjawab bersama. “Tahun lalu paling banyak karhutla dibanding bencana lain, meskipun sebenarnya angkanya malah lebih rendah dari tahun sebelumnya, tapi tetap saja kami butuh orang banyak untuk padamkan api,” tegasnya. Adapun jumlah karhutla di Kutim pada 2019 lalu sebanyak 69 kasus. Yang tersebar di Sangatta Utara sebanyak 31 kasus, Sangatta Selatan 26, Muara Wahau empat titik, Muara Ancalong dua lokasi, Muara Bengkal satu, Kongbeng satu, Sandaran pun satu, serupa denga Rantau Pulung, Batu Ampar, Sangkulirang, Bengalon dan Kaliorang satu kasus. Namun berbeda dengan Teluk Pandan yang mencapai tiga kasus. “Terbanyak masih di Sangatta Utara. Tapi kalau dari luasan paling besar di Muara Ancalong karena banyak lahan gambut. Ini pelajaran untuk kami, semoga ke depannya bisa lebih teratasi,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *