Jenuh Dijanji, Ahli Waris Segel Puskesmas

SANGATTA – Benar-benar jenuh telah dijanjikan tidak mendapat kepastian dari Pemkab Kutim, ahli waris Hengky Abdullah akhirnya menyegel Puskesmas Sangatta Utara untuk tidak digunakan lagi. Sempat bersitegang, antara aparat kepolisian dan ahli waris perihal penutupan pelayanan kesehatan. Namun ahli waris tetap bersikeras menuntut hak pembayaran lahan yang dianggap miliknya. “Kami berbicara lahan, bukan masalah pelayanan. Kami bukan bidang pelayanan,” ungkapnya saat disambangi di lokasi pada Senin (20/1). Sekira tujuh tahun merasa tidak direspons oleh pemerintah, dirinya terus melakukan upaya. Mulai dari menyegel kantor PMI beberapa bulan lalu hingga menyetop operasional puskesmas. Hal ini semata agar Pemkab Kutim melunasi pembayaran lahan. “Siapapun yang merasa terganggu boleh menggugat. Kenapa pemerintah tidak gugat kami kalau dia merasa pelayanannya terganggu. Itu karena suratnya lemah,” tegasnya. Dengan adanya spanduk protes yang telah terpajang selama setahun terakhir, ia mengira akan mengubah pola pikir pemerintah untuk melakukan pembayaran. Namun ternyata hal itu hanya menjadi angan-angan. “Tim apresial belum ada, saya juga sudah dipanggil ketua dewan, aset mau dihapuskan bukan aset pemda. Karena suratnya hanya tercatat dan poto copian pada 2017. Camat membuat hak pelepasan lahan tanpa konfirmasi pemilik. Makanya tidak bisa disertifikat. Itupun dilakukan oleh camat 1997 dan camat 2004,” bebernya. Hengky mengaku kenyang dengan janji yang dituturkan pemerintah daerah. Bahkan dirinya mengaku pernah diberi disposisi penandatangan langsung dari sekretaris daerah sejak dua tahun lalu. “Saya itu kenyang sekali di PHP, mudahan aja ada jalan. Kasihan kami rakyat biasa,” kata dia. Dia menolak untuk menggugat pemerintah ke pengadilan. Menurutnya hal ini akan sia-sia. Pasalnya, lahan tersebut diakui milik orangtuanya dan bukan milik pemerintah. Melihat kejadian itu, Kepala Puskesmas Sangatta Utara, Priskila Clara Rabok mengatakan hal ini bukan kali pertama. Bahkan dirinya sudah merasa biasa pada kondisi seperti ini. Sehingga ia meminta seluruh staf agar tetap bekerja seperti biasa. “Sebelumnya kejadian ini sudah pernah kami alami. Makanya kami tetap bekerja, karena ada aparat yang pasti mengamankan,” ungkapnya. Kejadian penyegelan tersebut diketahui berlangsung selama sekira satu jam. Hingga akhirnya usai melakukan mediasi, ahli waris kembali mengalah untuk membuka pelayanan kesehatan masyarakat dan memenuhi panggilan kepolisian untuk mediasi di Polres Kutim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *